Powered by Blogger.
RSS


"I'm worried that I'm very shallow, to get over him so quickly. Last week, even two days ago, I was still devastated and now I feel OK. I miss him, but I don't feel like my heart is breaking."- Gemma.

"I'm gonna have to meet him some time. I can't be sneaking around scared of bumping into him. It's time."- Jojo.

"As soon as I saw you I knew it was you."- Lily.

Satu pertanyaan untuk mengawali post ini, 'mengapa aku mengambil 3 quotes sekaligus hanya untuk mempresentasikan 1 buku?' Jawabannya adalah karena buku yang ditulis oleh Marian Keyes ini memang menceritakan kisah tiga wanita berbeda dengan cerita yang berbeda pula. Namun, ketiganya masih mempunyai korelasi dalam beberapa unsur cerita secara keseluruhan yang menjadikan buku ini unik dan menarik.

Gemma, seorang event organizer yang sedang berperang dengan kekecewaan terhadap sahabatnya, Lily, yang menurutnya telah mencuri kekasihnya, Anton. Keadaan semakin diperburuk dengan keputusan ayahnya untuk meninggalkan ibunya untuk menikah dengan seorang wanita yang jauh lebih muda. Ditengah konflik yang dihadapainya, Gemma menuangkan setiap emosi melalui email kepada seorang teman yang pada akhirnya mengirimkan email-email tersebut pada penerbit tanpa sepengetahuannya.

Jojo, adalah seorang literary agent yang menaungi Lily (dan pada akhirnya menaungi Gemma juga) yang mempunyai affair dengan bosnya yang sudah berkeluarga. Meskipun dia memiliki prestasi yang cukup baik di perusahaan dimana dia bekerja, tampaknya pihak perusahaan tidak mau mengangkatnya ke posisi yang sudah diinginkannya sekian lama. Di akhir cerita Jojo memilih keluar dari perusahaan tersebut, dan dengan resiko yang tinggi memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Lily, dulu adalah sahabat Gemma sebelum dia jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan Anton. Dia telah berhasil menulis satu buku yang menjadi best seller dan menerima uang yang cukup banyak. Namun karena kecerobohan suaminya, keadaan financial yang semula terlihat akan lebih dari cukup, justru tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Hal ini membuat hubungan keduanya mengalami keretakan.

Marian Keyes telas sukses membuat sesuatu yang unik namun sangat menarik untuk diikuti melalui buku ini. Cara dia mendeskripsikan setiap emosi melalui tiga tokoh yang berbeda sungguh adalah ide yang brilian. Oleh karena itu, meskipun buku ini bisa dibilang sangat panjang (648 halaman) namun aku tetap membaca hampir setiap baris yang ada dengan antusiasme yang sedikitpun tidak berkurang seiring banyaknya halaman yang aku balik.

Aku tidak tahu apa buku ini mempunyai versi Bahasa Indonesia, tapi yang jelas buat kamu yang sedang belajar Bahasa Inggris, buku ini akan sangat banyak membantumu memahami tradisi dan budaya dimana Bahasa Inggris digunakan. It's definitely one of those excellent purchase of mine!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


"In vain have I struggled. It will not do. My feelings will not be repressed. You must allow me to tell you how ardently I admire and love you." Mr. Darcy to Elizabeth Bennet.

Bisa dibilang aku jatuh cinta pada literatur English classic sejak aku membaca novel karya Jane Austen yang pertama kali diterbitkan pada 1813 ini. Berkisah tentang kisah cinta antara Fitzwilliam Darcy, seorang pemuda kaya dengan perangai yang sedikit angkuh- meskipun hal ini sebenarnya masih bisa dimaklumi mengingat kedudukan sosialnya yang tinggi dalam masyarakat dengan Elizabeth Bennet, putri kedua dari lima bersaudara Bennet yang berasal dari keluarga pas-pasan, membuat cerita ini sarat dengan isu perbedaan status, pendidikan, tingkah laku dan pernikahan.

Kisah cinta mereka bisa dibilang tema klise pada jaman sekarang. Yaitu bermula dari dua orang yang saling membenci karena kurangnya pemahaman serta penilaian yang prematur dari kedua belah pihak, yang pada akhirnya menyadari bahwa mereka sebenarnya menyimpan rasa sayang satu sama lain. Disuguhkannya nilai-nilai moral dengan cara cerdas dan gamblang oleh Austen menjadikan Pride and Prejudice novel yang jauh dari kesan jelata yang menjadikannya salah satu novel paling dicintai bahkan sampai saat ini.

Bagaimanapun juga, novel yang awalnya berjudul First Impression ini, menurutku, miskin emosi dan bisa dibilang terlalu dingin. Gaya bahasa yang digunakan membuatku kadang harus berhenti sejenak memahami emosi yang sedang dirasakan oleh karakter tertentu. Para remaja mungkin menemukan novel ini membosankan, akan tetapi buat kamu yang memang menyukai literatur sejenis dan mempunyai ketertarikan sendiri pada isu sosial akan dengan mudah dibuat jatuh cinta olehnya, tidak hanya karena kekayaan karakter para tokohnya, tapi juga humor sinis yang disajikan Austen melalui karakter Mr. Bennet.

Hal yang aku pelajari setelah menyelesaikan novel ini, baik versi Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris (meskipun bukan versi aslinya) adalah bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk membuat penilaian-penilaian dini yang kadang terlalu subjektif, tidak peduli betapa cerdas dan teliti orang tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS